• 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
11 22 33 44 55

Artikel Tentang Pendengaran

Data dan Topik Ketulian
Modified at 05 Desember 2007 by Ronny Suwento & DR.HARIS EKORINI

KETERLAMBATAN BICARA DAN GANGGUAN PENDENGARAN

PADA BAYI DAN ANAK

Ronny Suwento

PENDAHULUAN

Keterlambatan bicara merupakan manifestasi dari berbagai kelainan seperti gangguan pendengaran / ketulian, retardasi mental, developmental language delay, aphasia, autisme, cerebral palsy dll.

Untuk mengetahui penyebab gangguan bicara pada anak terlebih dahulu harus dipastikan bahwa pendengaran anak tidak mengalami gangguan

Gangguan pendengaran atau tuli sejak lahir akan menyebabkan gangguan perkembangan bicara,bahasa, kognitif dan kemampuan akademik . Bila gangguan pendengaran dan ketulian terlambat diketahui tentu hambatan yang akan dihadapi akan lebih besar lagi. Dari segi ekonomi, gangguan pendengaran dan ketulian juga menyebabkan pengeluaran keluarga , masyararakat dan Pemerintah lebih yang lebih besar. Penelitian di AS pada tahun 2003 menunjukkan bahwa seorang yang mengalami ketulian sejak lahir harus mengeluarkan biaya tambahan sebesar 417.000 USD selama hidupnya.

Dampak yang merugikan tsb harus dicegah atau dibatasi melalui program deteksi dini ketulian. Gangguan pendengaran dan ketulian yang dapat dideteksi lebih awal kemudian mendapat habilitasi pendengaran yang memadai akan membuka kesempatan bagi penderita untuk mencapai kemampuan berkomunikasi yang lebih optimal sehingga lebih mudah berinteraksi dengan lingkungan dan diharapkan mampu mengikuti jalur pendidikan biasa.

KETERLAMBATAN BICARA

Yang dimaksud dengan keterlambat bicara adalah suatu kondisi dimana perkembangan bicara anak secara nyata dibawah rata rata normal anak yang seusia.

Untuk mengetahui ada tidaknya keterlambatan bicara pada anak para profesional harus memahami tahap-tahap perkembangan bicara

TAHAP TAHAP PERKEMBANGAN BICARA

Secara umum perkembangan bicara meliputi tahap-tahap sebagai berikut : cooing, babbling, echolalia, jargon, pembentukan kata, penggabungan kata dan kalimat

AUDITORY EXPRESSIVE LANGUAGE DEVELOPMENT

Pada awal kehidupan, akan terjadi vokalisasi pralinguistik yang belum memiliki nilai nilai simbolik seperti cooing, tertawa, babbling monosilabik ( “ga”, “ba”, “da” dll), babbling polisilabik atau lalling ( bababababa”, dadadadada”,”lalalalala”. Vokalisasi ini bersifat universal, pada usia yang relatif sama dan pada semua bangsa. Bayi yang lahir tuli pada awalnya juga memiliki kemampuan cooing dan babbling

Sekitar usia 6 bulan terjadi proses vocal imitation,pada bayi normal produksi vokal nya lebih terbatas mengikuti ucapan bunyi disekitarnya ( suara orang tua); sedangkan pada bayi tuli mulai terjadi penurunan produksi vokal karena terbatasnya stimulus bunyi dan auditory feedback

Pada usia 6 – 9 bulan, babbling seperti “mama” dan ”dada” bersifat non-spesifik, hanya sekedar vocal play setelah usia 10 bulan, bayi belajar menghubungkan babbling tersebut dengan target individual (menyebut orang tua)

Pada anak normal usia 12 – 18 bulan perbendahaaraan kata-kata tunggal mulai bertambah dan secara dramatis meningkat pesat setelah usia 18 bulan. Pada masa ini anak mulai belajar menggabungkan 2 kata sebagai kalimat pendek. selanjutnya pada usia sekitar 30 bulan mulai mampu menggabungkan 3 sampai 5 kata walaupun belum mengikuti kaidah tata bahasa( kata pengubung, tunggal/ majemuk dll)

Kejelasan pengucapan kata ( intelligibility) berangsur-angsur mengalami penyesuaian sekitar usia 2 – 4 tahun

AUDITORY RECEPTIVE LANGUAGE DEVELOPMENT

Auditory receptive language development adalah tahapan perkembangan belajar memahami bunyi. Pada bayi di bawah usia 4 bulan proses ini dimulai dengan mengetahui atau menyadari bunyi (alerting to sound ) dengan cara memberi respons behavioral yang umumnya bersifat refleks. Respons behavioral dimaksud antara lain mengejapkan mata ( eye blink reflex), berhenti menghisap (cessation reflex), meningkatnya frekuensi jantung, terkejut ( Moro reflex). Pada usia 4 – 6 bulan mulai mampu melokalisir sumber bunyi (orienting to sound) , dimulai dari arah horizontal kemudian dari arah bawah dan atas.

Bayi lebih tertarik dengan stimulus berupa suara ucapan (speech sound) dibandingkan dengan bunyi lainnya (non speech sound)

Alerting dan orienting to sound tidak hanya dipengaruhi keutuhan sistim auditorik namun juga berhubungan dengan kemampuan kognitif dan berbahasa

Pada usia 9 bulan, bayi memberi respons bila namanya dipanggil, mengerti kata “tidak” dan dapat menjalankan instruksi sederhana dengan bantuan isyarat; sekitar usia 12 bulan instruksi tersebut dapat dimengerti tanpa bantuan isyarat. Sedangkan instruksi yang lebih kompleks sudah dapat dilakukan pada usia 2 tahun. Setelah usia 2 tahun anak mulai mampu mengucapkan kalimat pertanyaan sederhana

KETERLAMBATAN BICARA AKIBAT GANGGUAN PENDENGARAN/ KETULIAN

Untuk menentukan adanya gangguan pendengaran harus dilakukan pemeriksaan audiologik. Alat penghasil bunyi sederhana seperti bel (uncalibrated noise maker) memiliki intensitas sekitar 90 dB pada frekuensi 1000 Hz. Suara manusia juga dapat dianggap sebagai uncalibrated noise maker, dan dibedakan menjadi voiced sound ( ”j”, ’v”,’r”) dan unvoiced sound (”s”,”f ”,”th”).

Voiced sound yang diproduksi oleh getaran pita suara memiliki frekuensi rendah , sekitar 500 Hz dengan amplitudo (intensitas) 50 -60 dB; sedangkan unvoiced sound mempunyai amplitudo 20 – 30 db pada frekuensi tinggi (4.000 Hz).

Berbicara pada bayi dan melihat respon yang terjadi, kita dapat memperoleh kesan pendengarannya normal namun faktanya bayi tidak mendengar apapun kecuali sebagian kata dengan frekuensi rendah dan amplitudo tinggi

Pada anak yang mengalami gangguan bicara akibat gangguan pendengaran akan terjadi gangguan kejelasan bicara ( intelligibility), berkurangnya output verbal dan gangguan pemahaman kata; namun tetap memiliki visual languange yang dapat dimanfaatkan untuk membaca isyarat dan gerak tubuh

Pada gangguan pendengaran berat (> 90 dB) pada frekuensi rendah ( kurang dari 1000 Hz) kemampuan mendengar dan berbicara sangat buruk; kondisi ini terjadi pada kerusakan permanen sistim auditorik dan umumnya bersifat sensorineural.

Gangguan pendengaran konduktif terjadi sebagai dampak infeksi telinga tengah (otitis media). OM efusi mengakibatkan gangguan pendengaran derajat ringan sampai sedang, meskipun demikian dapat menyebabkan gangguan perkembangan bicara dan berbahasa bila berlangsung pada usia dibawah 12 bulan.

VISUAL LANGUAGE DEVELOPMENT

Bayi lebih tertarik pada gambaran visual wajah manusia dibandingkan benda/ permainan yang berbentuk geometrik. pada minggu minggu pertama sejak dilahirkan bayi secara visual memandang wajah orang tuanya tanpa kesan mengenali. Setelah minggu ke 6 – 10 bayi mulai dapat mengenali wajah orangtuanya, sehingga akan lebih cepat tersenyum dibandingkan melihat orang lain.Selanjutnya bayi akan lebih cepat memberikan reaksi bila melihat benda benda yang dikenali, misalnya botol susu.

Pada usia 6 bulan berkembang asosiasi visual –auditorik, misalnya menoleh mencari sumber bunyi
Sekitar usia 6 – 9 bulan bayi dapat diajak bermain mengikuti isyarat tangan. Setelah usia 2 bulan bayi telah dapat menunjuk dengan telunjuk ke arah obyek yang diinginkan.

JENIS GANGGUAN PENDENGARAN / KETULIAN

Jenis gangguan pendengaran / ketulian adalah :

  • Tuli Konduksi ( tuli hantaran)
  • Tuli Sensorineural ( tuli saraf )
  • Tuli campuran

Tuli konduktif terjadi sebagai akibat tidak sempurnanya atau tidak berfungsinya organ telinga yang berperan menghantarkan bunyi dari dunia luar ke telinga dalam ( inner ear). Kondisi ini misalnya dijumpai pada keadaan tidak terbentuknya liang telinga sejak lahir, liang telinga tersumbat kotoran atau benda asing, telinga tengah berisi cairan, pilek atau radang tenggorok yang menyebabkan terganggunya fungsi tuba Eustachius ( saluran penghubung antara telinga tengah dengan atap tenggorok).

Tuli sensorineural disebabkan oleh kerusakan pada rumah siput (koklea), saraf pendengaran dan batang otak (brainstem) sehingga bunyi tidak dapat diproses sebagaimana mestinya.

Tuli campur ( mixed deafness) bila gangguan pendengaran/ ketulian konduktif dan sensorineural terjadi bersamaan.

Perlu diketahui bahwa untuk dapat mendengar dan mengerti bunyi diperlukan suatu proses penghantaran dan pengolahan bunyi ( di telinga ) dan dilanjutkan dengan interpretasi bunyi (di otak) Sehinga mungkin saja dijumpai kasus dengan penhantaran dan pengolahan bunyi yang baik ( dapat mendengar) namun akibat gangguan pada otak, bunyi yang terdengar tidak dapat diartikan ( auditory receptive). Hal ini terjadi pada CAPD (central auditory processing disorder) yang diagnosis dan penanganannya lebih sulit dan memerlukan kerjasama antar disiplin.

PREVALENSI KETERLAMBATAN BICARA & GANGGUAN PENDENGARAN BAYI/ ANAK

Prevalensi terlambat bicara bervariasi diperkirakan sekitar 3 – 10 %. Menurut Coplan gangguan perkembangan bicara dan berbahasa terjadi pada 10 – 15 % anak anak pra-sekolah

Berdasarkan Survei epidemiologik di 7 Propinsi ( 1994 -1996) prevalensi gangguan pendengaran dan ketulian di Indonesia adalah 16,8 % dan 0.4 % ( Thailand ; 13,1 % dan 0.5 % ). Juga diketahui prevalensi ketulian sejak lahir sebesar 0.1 %. Data di Negara maju mendapatkan 1 – 3 penderita tuli dari 1000 kelahiran hidup.

PRINSIP DASAR PEMERIKSAAN PENDENGARAN PADA BAYI DAN ANAK

Pemeriksaan pendengaran pada bayi dan anak harus dapat menentukan

  • Jenis gangguan pendengaran ( sensorineural, konduktif, campur)
  • Derajat gangguan pendengaran ( ringan sampai sangat berat)
  • Lokasi kelainan ( telinga luar, tengah, dalam, koklea, retrokoklea)
  • Ambang pendengaran dengan frekuensi spesifik

Pada bayi dibawah 6 bulan masih sulit melakukan pemeriksaan behavioral ( Behavioral audiometry, Visual Reinforcement audiometry, play audiometry). Sehingga dipilih pemeriksaan elektrofisiologik yang lebih obyektif sepertii BERA ( Brainstem Evoked Response Audiometry), Otoacoustic Emission(OAE) dan Impedance Audiometry ( Timpanometri, refleks akustik)

Pemeriksaan BERA dapat menentukan jenis, derajat, lokasi dan ambang pendengaran.Namun dengan BERA click saja kita tidak dapat menentukan ambang dengar yang frekuensinya spesifik. Oleh sebab itu harus dilakukan pemeriksaan tambahan berupa BERA yang menggunakan stimulus tone burst pada nada rendah
Dengan mengetahui ambang dengar yang spesifik akan sangat membantu proses fitting ABD

DETEKSI DINI GANGGUAN PENDENGARAN / KETULIAN

TUJUAN

Skrining pendengaran bertujuan menemukan kasus gangguan pendengaran / ketulian sedini mungkin sehingga dapat dilakukan habilitasi/ rehabilitasi segera, agar dampak cacat dengar bisa dibatasi

Skrining pendengaran pada bayi baru lahir (Newborn Hearing Screening) dibedakan menjadi :

  • Universal Newborn Hearing Screening(UNHS) : pada semua bayi baru lahir, sebelum bayi meninggalkan rumah sakit
  • Targeted Newborn Hearing Screening: khusus pada bayi yang mempunyai faktor risiko terhadap ketulian.

SRINING PENDENGARAN BAYI BARU LAHIR

MAKSUD SKRINING PENDENGARAN PADA BAYI BARU LAHIR ?

Skrining pendengaran terhadap kemungkinan gangguan pendengaran/ ketulian pada bayi baru lahir, dengan menggunakan prinsip pemeriksaan elektrofisiologik. Pemeriksaan harus bersifat obyektif, praktis, cepat otomatis dan non invasif.

MENGAPA HARUS SKRINING ?

Dengan menemukan secara dini gangguan pendengaran pada bayi / anak kesempatan untuk memperoleh perkembangan linguistik dan komunikasi dapat lebih optimal

Menurut penelitian Yoshinaga – Itano (USA, 1998), bila gangguan pendengaran / ketulian sudah diketahui sebelum usia 3 bulan, selanjutnya diberikan habilitasi pendengaran mulai usia 6 bulan, maka pada saat anak berusia 3 tahun perkembangan wicara dan bahasanya dapat mendekati anak yang pendengarannya normal. SElanjutbya konsep dari Yoshinaga - Itano dijadikan acuan oleh American Joint Committee on Infant Hearing (2000) sebagai prinsip skrining pendengaran pada bayi baru lahir.

KAPAN DILAKUKAN SKRINING PENDENGARAN PADA BAYI ?
Skrining pendengaran bayi sudah harus dimulai sebelum pulang dari rumah sakit ( 2 hari ). Bila kelahiran terjadi di fasilitas lainnya , skrining sudah harus dilakukan selambat lambatnya pada usia 1 bulan.
FAKTOR RISIKO TERHADAP GANGGUAN PENDENGARAN / KETULIAN
Menurut American Joint Committee on Infant Hearing Statement (1994 ) pada bayi usia 0 – 28 hari beberapa faktor berikut ini harus dicurigai terhadap kemungkinan gangguan pendengaran

    Riwayat keluarga dgn tuli kongenital ( sejak lahir
    Infeksi pranatal : TORCH ( Toksoplasma, Rubela, Cytomegalo virus, Herpes )
    Kelaianan anatomi pada kepala – leher
    Sindrom yg berhubungan dgn tuli kongenital.
    Berat badan lahir rendah (BBLR) < 1500 gram
    Meningitis bakterialis
    Hiperbilirubinemia ( bayi kuning) yang memerlukan transfusi tukar
    Asfiksia berat ( lahir tidak menangis)
    Pemberian obat ototoksik
    Mempergunakan alat bantu napas /ventilasi mekanik lebih dari 5 hari (ICU)

Bila dijumpai 1 faktor risiko terdapat kemungkinan mengalami gangguan pendengaran 10,1 kali lebih besar dibandingkan yang tidak memiliki faktor risiko. Kemungkinan terjadinya ketulian meningkat menjadi 63 kali bila terdapat 3 faktor risiko. Namun beberapa penelitian melaporkan bahwa dari sejumlah bayi yang mengalami ketulian hanya sekitar 40 - 50 % saja yang memiliki faktor risiko.
PEMERIKSAAN APA YANG DILAKUKAN PADA SKRINING PENDENGARAN BAYI?
Menurut ketentuan dari American Joint Committee of Infant Hearing (2000) baku emas (gold standart) untuk skrining pendengaran bayi adalah pemeriksan :

    Oto Acoustic Emission ( OAE )
    Automated BERA ( AABR )

OTO ACOUSTIC EMISSION (OAE)
Manfaat pemeriksaan OAE adalah untuk mengetahui apakah koklea berfungsi normal. Telah diketahui bahwa koklea berperan sebagai organ sensor bunyi dari dunia luar. Didalam koklea bunyi akan dipilah-pilah berdasarkan frekuensi masing, setelah proses ini maka bunyi akan diteruskan ke sistim saraf pendengaran dan batang otak untuk selanjutnya di kirim ke otak sehingga bunyi tsb dapat di persepsikan.
OAE merupakan respon akustik nada rendah terhadap stimulus bunyi dari luar yang tiba di sel sel rambut luar (outer hair cells/ OHC’s ) koklea. Kerusakan yang terjadi pada sel sel rambut luar - misalnya akibat infeksi virus, obat obat ototoksik, kurangnya aliran darah yang menuju koklea – menyebabkan OHC’s tidak dapat memproduksi OAE.
OAE adalah suatu teknik pemeriksaan koklea yang relatif baru, berdasarkan prinsip elektrofisiologik yang obyektif, cepat, mudah,otomatis, non invasif, dengan sensitivitas mendekati 100%. Analisa gelombang OAE dilakukan berdasarkan perhitungan statistik yang menggunakan program komputer. Hasil pemeriksaan disajikan berdasarkan ketentuan pass – refer criteria, maksudnya pass bila terdapat gelombang OAE dan refer bila tidak ditemukan gelombang OAE. Pemeriksaan OAE dapat dilakukan di ruang biasa yang cukup tenang sehingga tidak memerlukan ruang kedap suara ( sound proof room). Juga tidak memerlukan obat penenang (sedatif) asalkan bayi/ anak tidak terlalu banyak bergerak.
Prinsip pemeriksaan OAE adalah memberikan stimulus bunyi tertentu melalui loudspeaker mini yang terletak di dalam sumbat telinga ( insert probe) dengan bagian luarnya dilapisi karet lunak ( probe tip) yang ukurannya dapat dipilih sesuai besarnya liang telinga. Insert probe dipasang di liang telinga, sehingga stimulus bunyi dapat masuk tanpa hambatan menggetarkan gendang telinga, selanjutnya melalui telinga tengah akan mencapai koklea. Pada saat stimulus bunyi mencapai sel sel rambut kohlea yang sehat, sebagai respons maka sel rambut dalam tsb akan memancarkan emisi akustik, yang akan dipantulkan ke arah luar ( echo) menuju telinga tengah dan liang telinga.Emisi akustik yang tiba di liang telinga akan di rekam oleh mikrofon mini yang juga berada di dalam insert probe. Selanjutnya akan di proses oleh mesin OAE melalui program komputer sehingga hasilnya dapat di tampilkan pada layar monitor komputer.
http://www.ketulian.com/v1/web/images/image012.jpg
 
http://www.ketulian.com/v1/web/images/image014.jpg
Karena perjalanan stimulus bunyi menuju koklea maupun emisi akustik yang dipancarkan oleh koklea ke liang telinga harus melewati telinga tengah; maka sebelum pemeriksaan OAE harus dipastikan bahwa telinga tengah dalam kondisi normal dengan pemeriksaan timpanometri. Kelainan pada telinga tengah akan mengacaukan pemeriksaan OAE.
JENIS PEMERIKSAAN OAE
Dikenal 2 jenis pemeriksaan OAE, yaitu Spontan dan Evoked OAE. Spontan OAE dapat timbul tanpa adanya stimulus bunyi, namum tidak semua manusia memiliki Spontan OAE sehingga manfaat klinisnya tidak diketahui. Evoked OAE adalah OAE yang terjadi pasca pemberian stimulus, dibedakan menjadi (1) Transient Evoked OAE (TEOAE) dan (2) Distortion Product OAE (DPOAE).

TEOAE
Untuk memperoleh emisi TEOAE digunakan stimulus bunyi click yang onsetnya sangat cepat ( milidetik) dengan intensitas sekitar 40 desibel. Secara otomatis akan diperiksa 4 – 6 jenis frekuensi. Spektrum frekuensi yang dapat diperiksa TEOAE adalah 500 - 4500 Hz untuk orang dewasa dan 5000 – 6000 Hz pada bayi. TEOAE tidak terdeteksi pada ketulian > 40 dB. Bila TEOAE pass berarti tidak ada ketulian kohlea, sebaliknya bila TEOAE reffer berarti ada ketulian kohlea lebih dari 40 dB. Umumnya hanya digunakan untuk skrining pendengaran bayi/ anak.

DPOAE
Mempergunakan 2 buah stimulus bunyi nada murni sekaligus, yang berbeda frekuensi maupun intensitasnya. Spektrum frekuensi yang dapat diperiksa lebih luas dibandingkan dengan TEOAE, dapat mencapai frekuensi tinggi ( 10.000 Hz). DPOAE (+BERA) digunakan untuk mendiagnosis auditori neuropati, monitoring pemakain obat ototoksik dan pemaparan bising,menentukan prognosis tuli mendadak (sudden deafness) dan gangguan pendengaran lainnya yang disebabkan oleh kelainan koklea.
AUTOMATED BRAINSTEM EVOKED RESPONSE AUDIOMETRY (BERA)
Automated ABR merupakan teknik pencatatan respon elektrofisiologik batang otak dan saraf koklearis terhadap stimulus bunyi dgn prosedur otomatis yang telah distandarisasi secara statistik. Pada pemeriksaan BERA click diperlukan analisa gelombang evoked potential oleh tenaga yang berpengalaman.
http://www.ketulian.com/v1/web/images/image015.png
 
Sebaliknya pada pemeriksaan Automated ABR ( AABR ) tidak diperlukan analisa gelombang evoked potential karena hasil pencatatannya sangat mudah dibaca, hanya berdasarkan pass – refer criteria ( lulus /tidak lulus ). Merupakan pemeriksaan yang obyektif, mudah, praktis, tidak invasif dan cepat ( 5-10 menit ). Digunakan stimulus bunyi click melalui insert probe. Untuk pencatatan respons digunakan elektroda yang ditempelkan pada dahi, dan kedua prosesus mastoid. AABR hanya dapat menggunakan intensitas stimulus yang terbatas yaitu 35 – 40 dB. Sensitivitas AABR mencapai 99.96%
Pada tahun 2006 Tim Health Tecnology Assessment Ditjen Yanmedik Spesialistik DEPKES bekerjasama dengan PERHATI ( Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Bali, Makasar) telah menyusun suatu alur Skrining Pendengaran Bayi di Indonesia.
 
HASIL SKRINING PENDENGARAN
 
OAE
   
 
BERA
   
 
KESIMPULAN
N
   
N
   
PENDENGARAN NORMAL
ABN
   
ABN
   
TULI SENSORINEURAL
N
   
ABN
   
NEUROPATI AUDITORIK
ABN
   
N
   
TULI KONDUKTIF (?), PERIKSA ULANG
TINDAK LANJUT SETELAH SKRINING PENDENGARAN
Bayi yang tidak lulus skrining harus di rujuk untuk pemeriksaan audiologi lengkap termasuk pemeriksaan OAE, ABR, timpanometri, refleks akustik dan behavioral Audiometry, sehingga dapat dipastikan ambang pendengaran pada kedua telinga dan lokasi lesi auditorik.
Pemeriksaan harus diupayakan memperoleh ambang pendengaran masing masing frekuensi ( spesific frequency). Salah satu kekurangan pemeriksaan BERA click adalah tidak diperolehnya informasi ambang pendengaran dengan frekuensi spesifik, karena hanya berupa average frequency antara 2.000 – 4.000 Hz; sehingga perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan BERA tone burst pada frekuensi rendah
Diagnostik pasti adanya gangguan pendengaran pada bayi idealnya pada saat bayi berusia 3 bulan.
 

* Centre for Care and Communicative Disorders – WHO Collaborating Centre for Prevention of Deafness and
Hearing Impairment. Divisi THT Komunitas Dept THT FKUI / RSCM. Jakarta
** thtkomunitas.com

DAFTAR PUSTAKA

    Coplan J. Early Languange Milestone Scale-2 ; Examiner Manual.2nd ed. Pro-ed. Texas,1993
    Berlin C.I. Otoacoustic Emission : Basic Science and Clinical Application . Singular Publishing Group. San Diego, 1998.
    Probst R, Grevers G, Iro H. Basic Otolaryngology 2nd ed. Thieme, Stutgart,2005
    Hall J.W. Handbook of Otoacoustic Emission.Singular Publishing Group.San Diego, 2000.White K. The Status of Early Hearing Detection and Intervention Program in The United States. International Conference On Newborn Hearing Screening Diagnosis and Intervention.Cernobbio- Milan, Italy. May, 2004
    Stappels D. Handout of Electrophysiology Measurement Course. Chicago. Illinois, USA. Nov. 1 -6, 2004
    Suwento R. Diagnosis Dini Ketulian pada bayi dan anak. Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran (KPPIK) FKUI. Evidence Based Medicine in Daily Practice. Jakarta, Februari 2005.
    Suwento R. Newborn Hearing Screening At Risk in Dept ORL dr Cipto Mangunkusumo Hospital : Challenge and Difficulties. Hearing International Meeting, Bali, August 2005
    Ronny Suwento, Hendarto Hendarmin. Deteksi dini gangguan pendengaran pada anak untuk optimalisasi Perkembangan Kecerdasan. Naskah Lengkap Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Kesehatan Anak XXXVII. Jakarta, November 1996.

 
 
 
LAPORAN SKRINING USIA PRASEKOLAH DI SURABAYA
DR.HARIS EKORINI
 
 
LATAR BELAKANG

    Faktor keberhasilan habilitasi / penanganan akan lebih baik apabila dimulai pada usia tersebut
    Mengenalkan kepada dunia pendidikan bahwa gangguan pendengaran dapat dideteksi dan diintervensi dini
    Community based à juga mengajarkan kepada guru-guru cara mendeteksi gangguan pendengaran secara sederhana
    Skrining banyak dikerjakan di rumah sakit (hospitalyl based) yang tidak lahir di rmah sakit diharapkan dapat terjaring pada ksrining prasekolah ini.

 
TUJUAN

    Menurunkan usia anak-anak yang terdeteksi gangguan pendengarannya (secara bertahap) à jangka panjang karena masih berkesinambungan.
    Mensosialisasikan ke dunia pendidikan
    Mencari angka otitis media akuta
    Mencari angka otitis media efusi.

WAKTU : Januari – Desember 2006 (sampai sekarang masih dikerjakan)
JUMLAH : 10 Play Group dan 11 Taman Kanak-Kanak
JUMLAH MURID : 333 Murid (666 Telinga0
USIA RATA-RATA : 55 Bulan (18 Bulan – 72 Bulan)
METODE : Menggunakan Otoacoustic Emission, hasil refer à dirujuk ke RSU Dr.Soetomo Surabaya untuk timpanometri dan audiometri
DILAKUKAN OLEH:

    Dr.Haris M.Ekorini, Sp.THT (RSU Dr.Soetomo)
    Dr.Sri Soekesi, Sp.THT (RSU Dr.Soetomo)
    Yayasan Aurica (Yayasan yang menangani anak dengan gangguan pendengaran dengan keluarganya à auditory training & habilitasi)
    PT.Kasoem
    PT.ABDI

 
HASIL

    Hasil Otoskopi

 
   
Intak
   
Perforasi
   
Mikrotia
   
Jumlah
Kanan
   
327
   
4
   
2
   
333
Kiri
   
328
   
5
   
0
   
333
Bilateral
   
326
   
6
   
0
   
 

    326 (97%) anak membran timpani intak
    6 anak (1,8%) dengan otitis media akut
    2 anak (0,6%) dengan kelainan genetik mikrotia dan atresia mae

 

    Hasil OAE, Timpanometri, Audiometri

Hasil OAE
   
Timpanometri
   
Audiometri
Pass
   
308
   
 
   
 
Refer Unilateral
   
7
   
 
   
 
Refer Bilateral
   
11
   
4 datang à Tipe B
   
30-40 dB
 
KESULITAN

    Tidak semua anak dapat diperiksa karena bila ada serumen obsturan tidak dilakukan tindakan
    Tidak semua sekolah di Surabaa dpat dilakukan pemeriksaan OAE karena tempat untuk memeriksa OAE harus cukup sepi sehingga sekolah dengan lokasi di jalan ramai tidak dapat dilakukan
    Anak dengan OAE refer yang dirujuk ke RSUD Dr.Soetomo tidak semuanya datang sehingga tidak didapatkan hasil pemeriksaan lanjutan timpanogram dan audiogram
    Tidak mempunyai alat timpanometer yang dapat dibawa ke sekolah (portable) sehingga untuk pemeriksaan timpanometri harus dirujuk ke RS

 
RENCANA

    Skrining bayi baru lahir (Hospitally based)
    Program berkesinambungan (mulai skrining bayi lahir, intervensi baik mamakai ABD / tidak, fitting ABD, implan Koklea, habilitasi dan dipikirkan juga sekolah / pendidikannya)
    Tim akan diperluas (unsur pemerintah, pendidikan, orang tua)

 
Surabaya 25 November 2007
 
 
 
Dr.Haris M.Ekorini, Sp.THT
 
 
 
 
 
Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (Komnas PGPKT) - Version 1.0
Copyright © 2007-2010 Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (Komnas PGPKT). all rights reserved.
Access using : Firefox / mozilla/5.0 (windows; u; windows nt 5.1; en-us; rv:1.8) gecko/20051111 firefox/1.5 from IP 182.8.37.82

 

powerhearingbali.com - Pusat Alat Bantu Dengar di Bali
Jalan Gatot Subroto Timur No 260, Denpasar, Bali
support and design by balihomewebsite.com